Sumber: Google |
LPM SATIVA - Mahasiswa mempertanyakan keberadaan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian Universitas Mataram yang dinilai mati suri. Kepasifan BEM Faperta sendiri telah menimbulkan banyak pertanyaan dan kritikan dari kalangan mahasiswa.
“Terhitung sejak pelantikannya
pada 23 Februari lalu dan lokakarya yang diselenggarakan oleh DPM Faperta
membahas anggaran dan rasionalisasi program kerja BEM Faperta bersama seluruh
pengurus inti ormawa se-fakultas pada 20 Maret, hampir setengah kepengurusan
ini. Belum ada satupun program
kerja yang terealisasikan mengingat anggaran BEM faperta sebesar Rp7.000.000. Rasanya
BEM Faperta tahun ini tidak menjalankan amanah semestinya yang telah
diamanahkan oleh mahasiswa Fakultas Pertanian,”
ungkap Herianto
salah seorang Mahasiswa Fakultas Pertanian.
Sejalan dengan kritikan Herianto, Riyansyah Praanggara selaku ketua BEM Faperta periode 2021-2022 mengungkapkan bahwa secara umum BEM Faperta ini tidak ada progres sama sekali. Baik kinerja maupun branding nama lembaga ke mahasiswa umum.
“Secara kinerja, BEM FP belum memberikan pelayanan maksimum ke mahasiswa. Contoh, kontak person untuk dihubungi belum dimuat, lalu kalau ada yang kita minta tolong untuk menanyakan informasi, siapa yang dihubungi ? Menteri/Kadep (Kepala Departemen)-nya kan tidak ada dipublikasikan,” tutur Riyan.
Di sisi lain, M. Gazali sebagai Ketua DPM Faperta dalam wawancara ini belum bisa memberikan banyak komentar terkait kondisi BEM Faperta saat ini. “Saya belum bisa banyak berkomentar, mungkin setelah evaluasi bisa saya berkomentar, tapi sebagai mahasiswa pertanian saya sangat menyesalkan jika BEM selaku pelayan mahasiswa tidak bisa memberikan pelayanan terbaiknya kepada mahasiswa pertanian. Terkait proker dan sebagainya akan disampaikan saat evaluasi dalam minggu ini, insyaAllah," terangnya.
Penulis: Erna dan Clarita
Tidak ada komentar: